Wednesday, February 13, 2013

Calistung? Siapa Takut? (bagian 2)



Calistung, menurut saya memang bisa diajarkan sejak anak usia dini, atau bahkan sejak mereka bayi. Keuntungan mengajarkan mereka sejak awal adalah waktu yang panjang sehingga memungkinkan untuk diajarkan secara bertahap, dan akan menjadi pembiasaan. Tapi bukan dengan cara langsung mengajarkan mereka membaca tulisan, menuliskan huruf, atau berhitung. Bukan dengan menetapkan target, misalnya dalam sehari harus bisa hapal 5 huruf, berikutnya 5 kata, dst. Bukan dengan cara memaksa anak belajar. 

Tapi dengan cara menyediakan waktu untuk bermain dengan anak-anak, dan menyelipkan pengenalan calistung secara bertahap dalam setiap permainan. Prinsipnya adalah untuk membuat anak menyukai prosesnya, mencintai ilmu, dan memancing kreativitas anak.

Beberapa orangtua memilih untuk memberikan beragam mainan edukatif kepada anak-anak. Mainan huruf, angka, bentuk, misalnya. Cara ini baik, tapi hanya akan efektif jika orangtuanya juga menunjukkan antusiasme yang sama dalam bermain bersama. Mainan edukatif hanyalah media, tapi tetap proses bermainnya yang akan memberi pengaruh. Misalnya, ketika mengenalkan huruf dengan mainan edukatif, anak dibiarkan bermain sendiri, atau hanya sekali-kali ditemani, atau ditemani namun orangtua tidak antusias bermain, ya anak pun akan bosan sendiri dengan mainannya. 

Memberi contoh (teladan) juga bagian yang penting dalam mengenalkan calistung pada anak. Bagaimana anak akan mencintai buku dan mau mulai belajar membaca, jika orangtuanya tidak suka membaca, dan lebih memilih jalan-jalan ke mal daripada ke toko buku? Bagaimana anak mau belajar berhitung, jika untuk hitungan sederhana saja, orangtua pakai kalkulator?

Bagaimana memulai mengajarkan anak calistung sejak dini? 

Membaca


-          Budayakan cinta baca dan cinta buku di rumah. Dengan melihat orangtua yang suka membaca, anak-anak usia berapapun akan tertarik untuk ikut membaca

-          Alihkan anggaran untuk membeli mainan mahal atau baju-baju bermerek, atau barang-barang konsumtif lainnya, untuk membeli buku. Beli buku sesuai usia anak. Tidak perlu yang terlalu mahal, banyak juga buku-buku bagus dengan harga murah.

-          Ajak anak membuka-buka bukunya dengan antusias. Biarkan anak bertanya apapun tentang isi bukunya.

-          Bacakan cerita (bisa dimulai sejak bayi) sebelum tidur, saat santai, atau kapanpun anak mau.

-          Bermain cari huruf. Ketika anak sudah mulai mengenal satu dua huruf, ajak ia menemukan hurufnya di buku, tembok, jalan, dapur, dimanapun. Beri pujian ketika ia berhasil.

-          Ajak ia merawat dan menjaga buku-buku miliknya selayaknya barang berharga.

-          Buat simbol-simbol huruf dengan mainannya, menggunakan playdough, barisan boneka, mobil-mobilan, kelereng, bekas stik es krim, atau media apapun.

-          Kurangi nonton TV, ganti dengan membaca dan bercerita. VCD edukatif juga bagus, selama didampingi dan dibimbing orangtua.

-          Kurangi ekspos lagu-lagu anak yang kurang mendidik, ganti dengan nursery rhymes


Menulis


-          Menulis adalah keterampilan motorik halus, yang berarti berkembang secara bertahap. Jika anak tak pernah melatih motorik halusnya, ia juga akan kesulitan saat mulai menulis.

-          Keterampilan motorik halus bisa mulai dilatih tanpa harus belajar menulis. Beberapa permainan yang melatih motorik halus : merobek-robek kertas koran bekas, menggulung koran bekas menjadi pedang-pedangan, origami (melipat kertas), meronce, bermain playdough, dan masih banyak lagi.

-          Biarkan ia mulai memegang alat tulis pada usia berapapun. Beri ia kertas gambar yang besar, crayon atau spidol yang aman. Biarkan ia membuat coretan sesukanya, tapi tetap awasi agar keamanannya terjaga.

-          Latihan mewarnai juga bagus untuk melatih konsentrasi dan mengikuti aturan, tapi biarkan juga ia menggambar sesukanya.

-          Latihan menulis bisa juga menggunakan buku-buku latihan menulis (banyak di toko buku), tapi bisa juga dibuat sendiri di rumah. Ajak anak membuat barisan garis-garis pendek (latihan huruf I), lalu bulat-bulat (latihan huruf O), atau bentuk bulan sabit (latihan huruf C dan bentuk sejenis).

-          Karena ini keterampilan motorik, maka semakin sering ia melakukannya, ia akan semakin lancar. Jangan takut kehabisan kertas dan spidol, jangan takut rumah kotor.

Berhitung

-          Orangtua harus menyadari bahwa berhitung hanyalah bagian dari matematika. Masih banyak hal lain yang sama pentingnya dalam matematika, seperti logika dan problem solving.

-          Mengenalkan angka bisa dimulai di usia berapapun. Biarkan ia melihat simbol-simbol angka di rumah, di buku, majalah, brosur, dll. Tunjukkan benda nyata dengan jumlah tertentu, sambil berinteraksi sehari-hari, misalnya “Kamu mau satu roti atau dua roti?”

-          Daripada mendengarkan lagu-lagu anak yang tak jelas pesannya, ajak ia mendengarkan dan bernyanyi (bersama orangtua), lagu-lagu nursery rhyme yang mengenalkan tentang angka.

-          Gunakan media buku dan cerita untuk mengenalkan matematika. Sekarang banyak sekali buku-buku aktivitas untuk latihan berhitung atau buku cerita yang berhubungan dengan matematika.

-          Jangan memaksa anak mengerjakan suatu hitungan jika ia rewel. Jangan sampai keluar kata-kata, “Ah, kamu begini aja masa nggak bisa..”


Masih banyak cara-cara lain yang bisa digunakan orangtua atau guru, tapi pada dasarnya, anak harus mencintai prosesnya. Proses harus berlangsung menyenangkan agar ia antusias setiap kali diajak ‘belajar’. Lakukan dengan senang hati (bukan terpaksa demi mengejar prestasi anak misalnya). Ingat, antusiasme itu menular. 

Berdasarkan pengamatan saya, anak-anak yang mendapat stimulasi seperti contoh-contoh diatas, tidak akan mengalami kesulitan berarti ketika di TK B mulai diajarkan calistung, atau ketika awal SD. Kalau dilakukan secara konsisten sampai ia besar, bonusnya adalah kecintaan akan membaca, mencari ilmu dan keberanian berkreasi dan berekspresi.

So, mengajarkan Calistung pada anak? Jangan ragu, ayo mulai sekarang!

2 comments:

  1. Anak pada usia emas, bisa menyerap apa saja, layaknya spons. Jadi... memang jika anak sedini mungkin dikenalkan dengan segala sesuatu yang baik, maka dia akan meyerap hal yang baik itu dengan cepat.

    ReplyDelete
  2. saya juga sedikit2 udah nerapin yang mba tulis..
    smoga saya terus sabar & konsisten :)

    ReplyDelete