Tuesday, January 8, 2013

Gizi Jalan, Konsentrasi Menang



Salahsatu hobi Hani: Eksperimen Sains


Sejak kecil, Hani anak yang super aktif, rasa ingin tahunya tinggi, minatnya pada ilmu pengetahuan juga sangat besar. Kini dia sedang mengikuti  pembinaan untuk anak-anak yang berbakat IPA di sekolahnya.

Satu hal yang sangat saya syukuri adalah, Hani jarang sakit. Pernah sekali menderita gejala typus ketika TK dan radang tenggorokan ketika usianya 2 tahun. Saya menyadari, bahwa ketika ia mulai batuk pilek, pasti sembuhnya akan lama, bisa lebih dari satu minggu. Karena itulah, saya selalu menjaga asupan gizinya, dan membatasi camilannya.

Sejak ia menderita radang tenggorokan itu, ia mulai susah makan, pemilih tepatnya. Setiap hari saya berputar otak, mengusahakan menu yang akan disukainya, sambil tetap melindunginya dari asupan makanan/minuman yang tidak sehat. Tidak mudah, terutama sejak SD, dimana ia melihat teman-temannya bisa jajan dengan seenaknya.

Ketika balita, Hani tidak saya kenalkan dengan permen. Dia juga tak pernah jajan di warung. Es krim sesekali, camilan pun diusahakan berupa biskuit. Camilan dan susu hanya saya ijinkan untuk dikonsumsi, ketika menu utama sudah disantap. Beberapa teman menganggap saya terlalu strict pada aturan, terutama karena melarang ia jajan atau menolak pemberian orang lain yang berupa permen.

Tapi buat saya itu penting.

Saya juga memperhatikan, bahwa Hani bukan anak yang mudah berkonsentrasi. Konsentrasinya mudah buyar, perhatiannya mudah teralihkan, karena ia begitu aktif. Beruntung saya mampu menyekolahkannya di sekolah yang mendukung anak-anak yang aktif seperti ini, dan saya pun rajin berkomunikasi dengan guru-gurunya.

Setiap hari saya berusaha menemukan cara untuk menjaga konsentrasinya saat belajar. Saya memperhatikan caranya belajar dan menyimpan informasi dalam otaknya. Saya membaca banyak referensi tentang cara belajar anak. Saya menemukan fakta bahwa Hani adalah anak dengan tipe belajar dominan Visual-Kinestetis. Dalam beberapa mata pelajaran tertentu, ia cenderung Visual. Dalam pelajaran lainnya, ia cenderung Kinestetis. Ini saya observasi sendiri, bukan berdasarkan tes psikolog professional.

Saya juga belajar bahwa, untuk dapat berkonsentrasi, anak butuh energi yang cukup, bukan yang berlebihan. Ketika anak punya cukup energi, proses belajar akan lebih mudah. Ketika kurang energi, ia akan lemas dan malas untuk belajar. Jika dipaksakan untuk belajar pun, ia akan mudah kehilangan konsentrasi, atau merasa pusing.

Namun, energi yang berlebihan juga tidak akan membantu. Anak akan menjadi sangat aktif bergerak, namun sulit untuk berkonsentrasi. Energi yang berlebihan ini biasanya diperoleh dari sumber makanan yang kandungan gula sederhananya tinggi, atau makanan dan minuman yang manis, contohnya permen, sirup, atau susu dengan kandungan gula tinggi.

Semakin Hani besar, daya tahan tubuhnya juga makin baik. Saya tidak lagi melarangnya mengkonsumsi permen atau es, namun jumlahnya tetap dibatasi, dan tetap mengutamakan asupan menu makan utama. Konsentrasi belajarnya akan baik ketika perutnya kenyang (tapi tidak terlalu kenyang) dan tidurnya cukup. Karena itulah, saya tak pernah memaksa untuk belajar, ketika ia sedang lapar, belum makan, kurang tidur atau terlalu lelah.

Dia tetap anak super-aktif. Jadi metode belajarnya saya variasikan, kadang dengan mind-mapping, membuat word-list, variasi soal latihan, perbanyak soal cerita dan analogi. Ketika ia mulai bosan, hilang konsentrasi, rewel, atau mengeluh, saya ganti metodenya, saya beri ia kesempatan untuk mengemil (ia sangat suka ngemil) biskuit, jus, buah, susu UHT atau roti. Jika semua cara itu sudah dilakukan dan ia masih juga rewel dan tak bisa berkonsentrasi, kemungkinan besar ia lelah dan mengantuk. Maka, saat itu juga, proses belajar saya hentikan, dan ia saya persiapkan untuk tidur, walaupun bahan belajarnya belum tuntas.
 
Hal ini konsisten saya lakukan, hingga kini ia kelas 4 SD. Saat ini pun ia masih tetap anak yang aktif dan tak bisa diam. Namun, konsentrasi belajarnya jauh lebih baik, seiring dengan selera makannya yang juga membaik.
Saya dan sebagian buku milik Komunitas IIDN (http://www.facebook.com/groups/ibuibudoyannulis)

 Catatan : artikel ini diikutsertakan dalam "WRITING COMPETITION ANMUM BUNDA INSPIRATIF" bersama Komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis, Januari 2013

6 comments:

  1. great mommy!!! ;)) pengen deh bisa setelaten elo ran..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Loe juga bisa kok ki.. yg penting, niat... hihi basii yak..

      Delete
  2. Replies
    1. ga dandan aja udah cakep ya mbak... (narsis abissss!) coba klo dandan, pasti ancurr.. wkwkwkkk

      Delete
  3. mama Rani, bukunya banyak juga yaa.. hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. itu belum semua koleksi buku IIDN sbnrnya, msh ada beberapa buku lagi.. tp kalo difotoin semua, ntr ga ada tempat buat muka eike doongg.. *teuteup narsis*

      Delete