Friday, June 14, 2013

Cerpen : OBSESI



ilustrasi : Majalah Sekar

Sebagian besar tamu sudah pulang. Tapi tenda belum dibongkar. Bendera kuning masih berkibar. Karangan bunga di halaman masih segar.

Kakak-kakak Nina sudah kembali ke kehidupan masing-masing, ke keluarga masing-masing. Terlalu banyak kepentingan dan urusan yang mereka tinggalkan selama dua hari kemarin, demi menemani Nina, sang bungsu.

Sekarang saatnya Nina menghadapi kenyataan sendirian. Tetangga-tetangga hanya sesekali menjenguknya, mengantarkan makanan, mencucikan pakaian, membersihkan rumah. Nina tidak dibiarkan melakukan apa-apa, kecuali berkabung, berdiam di dalam kamar.

Malam Kamis lalu, tidur Nina dibangunkan oleh sebuah telepon. Tentang Haris. Suaminya mengalami kecelakaan parah di area peristirahatan km.10. Nina berburu taksi di tengah malam, menyusul ke rumah sakit, tapi terlambat. Ia tak sempat melihat suaminya hidup.

Dunia jungkir balik setelah itu. Kerabat-kerabatnya datang, mengurusi semua urusan pemakaman, karena Nina sama sekali tak mampu melakukan apa-apa. Ia hanya diam dan mengurung diri di kamar.
Diam. Bisu. Ia bahkan tak terdengar menangis. Matanya hanya berkaca-kaca nanar.
Orang berbisik, dan beberapa mengatakan bahwa ia shock berat. Beberapa menyanjung ketegarannya. Tapi tak ada yang tahu apa yang benar-benar dirasakan Nina saat ini.

Nina terduduk di lantai kamarnya, tak mempedulikan beberapa tetangganya yang sibuk di luar. Entah ada yang memasak, menyapu, atau mengobrol, Nina tak lagi peduli. Ia hanya memandangi layar telepon genggamnya yang kosong. Ia mematikannya dua hari lalu.
Betapa ia ingin memutus hubungan dengan dunia. Betapa ingin ia mengurung dirinya selamanya di kamar ini. Di dunianya sendiri.

Ia mendengar bisikan seorang tamu, bahwa ia terlalu mencintai Haris, hingga shock seperti ini. Cinta? Nina bahkan tak tahu lagi apa itu cinta.

Sampai semalam. Beberapa sahabat semasa kuliahnya datang. Entah darimana mereka mendengar berita duka ini. Nina menerima mereka dengan senyum datar. Senyum Nina hanya mengembang ketika muncul sepasang mata coklat itu di hadapannya. Mata coklat terindah sepanjang masa.
Basa-basi. Lalu lebih banyak basa-basi lagi. Nina benci basa-basi. Nina benci tatapan kasihan. 

Sebenarnya, Nina sudah begitu membenci banyak hal beberapa tahun belakangan ini.
“Telponmu mati, Nin?” tegur mata coklat itu, ketika rombongan itu mau pulang.
“Ya, aku matikan..” sahut Nina tanpa ekspresi.
“Nyalakan ya..” bisiknya lagi. Nina membaca kilat harap di dalam mata coklat itu, dan mengangguk lemah.

Dan, sekarang Nina di sini. Dalam keinginan menyalakan kembali ponselnya, dan ketakutan akan pesan-pesan yang mungkin diterimanya. Keinginannya akhirnya menang.

Ponsel Nina langsung berdecit-decit tiada henti, begitu banyak SMS masuk, pesan suara, notifikasi email, entah bunyi apa lagi. Semua Nina abaikan kecuali satu nomor. SMS dari sang pemilik mata coklat indah itu.
Thu, 10:12 AM : Nina, are you alright?
Thu, 11:20 AM : Nin, kenapa HP mati? Aku cemas, tolong kabari ya.
Thu, 08:10 PM : Nina, please. Aku harus bicara.
Fri, 12:54 AM : Nin, aku dengar dari grup tentang Haris. Turut berduka ya. Aku kesana nanti sama teman-teman.
Fri, 06:35 PM : Aku lagi di jalan ke rumahmu. Tolong balas.
Fri, 07:15 PM : Teman-teman semua sedih memikirkanmu. Terutama aku.
Fri, 08:10 PM : Nin, aku sekarang masih di ruang tamumu, sedang duduk di seberangmu. Kau kelihatan hancur. Aku tahu kau menutupinya, tapi kau tak pernah bisa membohongi aku. Kau hanya pura-pura.
Fri, 09:38 PM : Nina dear, aku pulang ya. Aku ingin tinggal menemanimu, tapi nggak enak sama teman-teman. Tolong balas smsku. Jangan diam terus. Aku sangat mencemaskanmu.
Fri, 11:50 PM : Selamat malam Nina, semoga kau baik-baik saja. Aku masih memikirkanmu.
Sat, 05:15 AM : Sudah bangun Nin? Aku masih menunggu smsmu.
Sat, 07:10 AM : Please Nin, balas. Aku mau telpon. Aku ingin bicara.

Nina menengok jam di atas meja. Sembilan pagi lewat sedikit. Jari telunjuknya mulai meningkahi touch-screen ponselnya.
‘Aku baik-baik saja. Jangan khawatir.’
Hanya lima menit setelah reply pesan itu terkirim, ponselnya berbunyi nyaring. Nina tak perlu menduga siapa yang menelpon.
“Ya, halo?”
“Ninaa! Aku bisa gila nunggu smsmu dari kemarin! Kenapa dimatikan?”
“Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja, Ren..”
“Tidak, kau tidak baik-baik saja. Jangan bohong..”
“Rendi..”
“Nina, aku benar-benar mencemaskanmu.. Aku ke rumahmu ya?”
“Jangan!”
“Kalau gitu, kita ketemu di luar?”
“Tidak.. Aku tidak bisa, aku masih dalam masa berkabung. Aku nggak bisa pergi kemana-kemana sampai 4 bulan ke depan. Please, nggak usah telpon aku dulu ya..”
“Empat bulan???”
“Empat bulan sepuluh hari, tepatnya..”
“Nggak boleh bicara denganmu empat bulan lebih?? Aku bisa gila, Nina!”
“Itu masalahmu..”
“Aku akan tetap SMS..”
“Tidak boleh..”
“Aku tidak minta ijinmu.. Kalau kau nggak balas, aku akan telpon..”
Nina mendesah dalam, berat. “Terserah. Aku pergi dulu..”
“Nin! Tu-....” Tut. Putus.
---

Rendi membanting iPhone-nya ke atas kasur. “Siaaaallll!!!!”
Ia mengacak-acak rambutnya yang sudah kusut sejak semalam. Semalaman ia tak bisa tidur, menanti balasan SMS Nina, mencoba menelponnya, terus memikirkannya.

Terduduk ia di atas karpet empuk apartemennya. Sesenggukan. Ingin rasanya ia meledakkan semua yang ia rasakan di dadanya. Ingin ia teriakkan pada dunia, betapa ia mencintai Nina. Betapa ia mampu melakukan apapun demi Nina. Apapun.

Dunianya berubah total, ketika ia bertemu kembali dengan Nina lima tahun lalu, setelah berpisah lebih dari sepuluh tahun sebelumnya. Nina cinta pertamanya, bahkan mungkin satu-satunya cintanya, karena beberapa kali ia menjalin hubungan dengan wanita, tapi Nina tak pernah lepas dari ingatannya. Tidak juga ketika Rendi menikahi Kanya, teman kantornya.

Pernikahan itu baru berjalan dua tahun, ketika Rendi bertemu Nina kembali dalam sebuah reuni. Setahun kemudian, Rendi dan Kanya bercerai. Kini, Kanya sudah menikah lagi dengan seorang pengusaha kaya. Sementara Rendi, masih terus terperangkap dalam masa lalunya bersama Nina.
Tapi Nina tidak tahu itu.

Nina tak tahu bahwa Rendi tak pernah berhenti mencintainya, tak peduli berapa tahun mereka berpisah. Ketika Nina terlihat bahagia saat menceritakan pernikahannya, Rendi mengerti, bahwa ia hanya bisa mencintai Nina dari jauh. Jadi, ia hanya sesekali mengirimi Nina pesan pendek, atau telepon basa-basi, menanyakan kabar, walau setiap saat ia menahan keinginannya untuk bertemu Nina.

Tapi tidak lagi, ketika suatu hari, dua tahun lalu, tak sengaja ia bertemu Nina di sebuah mall di Jakarta. Nina terlihat kacau saat itu. Lalu sejak itu, mereka sering bicara, sms, atau telepon. Rendi akhirnya tahu, bahwa sepanjang pernikahannya, Nina tak pernah bahagia. Haris bukanlah laki-laki sopan dan baik hati seperti yang dikenalnya sebelum menikah. Nina merasa Haris tak pernah benar-benar mencintainya, dan hanya menikahinya demi status sosialnya.

Dari Nina, Rendi tahu bahwa Haris punya perempuan simpanan dimana-mana, berganti-ganti. Nina bertahan demi nama baik keluarga besarnya.
“Nina, kau nggak bisa begini terus..” kata Rendi suatu kali di salah satu telepon-telepon mereka, ketika Haris sedang ‘tugas’ keluar kota.
“Ren, aku tak mungkin minta cerai.. Keluarga Haris itu keluarga priyayi, dan yang mereka tahu, Haris itu anak sempurna. Aku yang akan jadi kambing hitamnya..” kilah Nina.
“Kau pengecut..”
Nina terdiam, membuat Rendi merasa bersalah.
“Maaf Nin.. Tapi aku nggak bisa membiarkan kamu seperti ini..”
“Aku tahu, kau memang temanku yang baik.. Makasih ya sudah mau mendengarkanku..”

Glek. Saat itu Rendi sadar, Nina tak pernah menganggapnya lebih dari sekedar teman. Ia juga sadar, ialah yang sebenarnya pengecut, karena tak pernah berani mengungkapkan perasaannya pada Nina. Tidak dulu di kampus, tidak juga saat ini.

Tapi itu tak menghentikan obsesinya pada Nina. Untuk memilikinya. Untuk melindunginya. Tidak dulu. Tidak sekarang. Terutama sekarang, setelah Nina akhirnya ‘bebas’ dari Haris.
Masih dengan muka lusuh dan hati remuk, Rendi keluar, menuju parkir, dimana CRV hitamnya menanti. Ia melirik sedikit baret di bemper depan, dan mengernyit. Aku harus membawanya ke bengkel besok. Ke salon mobil nggak cukup ternyata.
---

“Kami masih melacak pelaku tabrak larinya, Bu Nina. Tapi sudah ada petunjuk dari rekaman CCTV di area parkir. Kami harap ibu bersabar.”
Polwan itu bicara panjang lebar pada Nina. Ia hanya menanggapi seperlunya, tanpa ekspresi. Tak mempedulikan fakta-fakta mengejutkan yang disampaikan pihak polisi kepadanya. Hatinya sudah terlanjur kosong.

Polisi bilang, di malam itu, Haris sedang berada di rest area, bersama seorang wanita. Mereka baru keluar dari mobil, hendak menyeberang, ketika ada mobil lain yang menabrak mereka. Malam itu tempat parkir yang gelap begitu sepi. Tak ada saksi mata. Tapi polisi sudah mendapat petunjuk tentang mobil pelaku tabrak lari itu.

Nina tak merasakan apa-apa ketika polisi menyebutkan nama dan menunjukkan foto seorang wanita. Ia tidak mengenalnya. Katanya, wanita itu masih dirawat di rumah sakit karena luka dan shock. Nina tidak peduli. Selama bertahun-tahun bersama Haris, begitu banyak wajah lain, begitu banyak nama. Sudah lama Nina tak peduli.

Setelah polisi pergi, Nina kembali mengurung diri di kamar. Ponsel dinyalakan. Lagi-lagi, ada beberapa sms dari Rendi. Ingin sekali ia membalas semuanya. Rendi telah membantu luka hatinya dua tahun terakhir ini, hanya dengan bicara. Bicara dengan Rendi telah menjadi kebutuhan rutinnya. Obat penenangnya. Nina pun tahu, ada yang berbeda dari perhatian Rendi, entah apa, tapi Nina menikmati setiap obrolan mereka di telepon, seremeh apapun. Ada yang bergelitik aneh dalam perutnya, ketika mendengar tawa renyah Rendi, menyimak lembut kata-katanya. Walau hanya bertemu Rendi beberapa kali, setiap menemukan mata coklat Rendi, ada yang mengiris di dalam dadanya. Nana tahu, walau tak pernah mengungkapkannya terus terang, Rendi merasakan hal yang sama.

Tapi kali ini ada hal lain yang harus ia lakukan. Tidak ada hubungannya dengan Rendi. Dipilihnya sebuah nomor. Pemilik nomor itu belum tahu tentang kepergian Haris. Pemilik nomor itu adalah pengacaranya. Ia mengetik beberapa baris, dan mengirim.

Tak sampai setengah jam kemudian, ponselnya bergetar. Pengacaranya menelpon.
“Ya pak.. Ya, kejadiannya malam Kamis kemarin, maaf saya baru sempat mengabari, di rumah repot sekali.. Jadi berkasnya nggak usah dibuat pak, saya tak perlu lagi.. Ya, saya tahu… Tidak apa-apa, saya akan tetap bayar.. Berapa? Kan kita baru dua kali pertemuan.. Oh begitu? Baik.. Tolong sms saya no rekeningnya.. Tagihan difax saja ya.. Baik.. Baik.. Terimakasih banyak Pak.. Selamat sore..”
Tut.

Nina menarik nafas dalam. Berat. Terlalu banyak urusan yang harus diselesaikannya . Surat-surat, tagihan, kontak agen asuransi, kantor Haris, belum lagi tamu yang sesekali masih datang. Menelpon pengacara perceraiannya adalah urusan terakhir hari ini.

Ya, Nina sudah berencana untuk menggugat cerai Haris. Ia baru sampai tahap konsultasi dengan pengacara dan persiapan surat gugatan. Haris bahkan belum tahu. Sekarang, semua itu tak perlu.

Dulu ia pikir, jika ia tak lagi bersama Haris, ia akan merasa tenang. Lega. Tapi ketika ini benar-benar terjadi, bukan itu yang ia rasakan. Saat mengurusi semuanya sendirian, ia menghadapi kenyatan bahwa perhatian keluarga besar Haris hanya sebatas pengurusan pemakaman dan harta warisan. Simpati mereka pada Nina sebagai istri Haris, hanya basa basi. Nina tak mempermasalahkan soal harta peninggalan Haris. Semua asset atas nama Haris, Nina berikan pada ibu mertuanya. Nina hanya akan mengambil rumah ini, satu-satunya yang beratasnamakan Nina dari beberapa rumah yang dimiliki Haris, dan sebuah mobil sedan hadiah ulangtahun dari Haris dua tahun lalu (Nina tertawa getir mengingat ini, karena Haris bahkan tak pulang di malam itu, karena sedang ‘rapat’ dengan selingkuhannya). Santunan dari perusahaan dan asuransi jiwa, serta tabungan pribadinya bertahun-tahun, sudah lebih dari cukup untuknya memulai  hidup baru.

Menghadapi semua ini sendirian, menguras sisa-sisa energi dan emosinya. Kesepian besar menyerbunya bagai tsunami. Ia jatuh terduduk dan setelah berhari-hari, ia akhirnya menangis.
---

Rabu malam, jalan tol.
Rendi menjaga kecepatan mobilnya. Ia berkonsentrasi pada sebuah mobil di depannya. Dasar laki-laki tak tahu diri! Sama siapa lagi kau sekarang?

Rendi punya relasi luas dan dana bagai tak terbatas. Cukup untuk membiayai obsesinya. Dengan mudah, ia tahu siapa Haris, dimana kantornya, kegiatannya, bahkan lokasi makan siangnya. Beberapa kali ia berkesempatan menyaksikan sendiri pengkhianatan Haris pada Nina. Di dalam mobil, di tempat parkir, Rendi menelpon Nina, mendengarkan keluh kesahnya, mencoba mencandainya demi mendengar sekilas tawa Nina. Rendi tak menyebutkan sepatah kata pun tentang Haris dan seorang perempuan yang sedang disaksikannya, makan malam mesra di café di seberangnya.

Malam itu, tanpa sengaja Rendi melihat mobil Haris di pintu tol. Karena tanpa rencana, Rendi tak berpikir lain, ia harus mengikuti mereka.
Di km 10, mobil sedan itu berbelok masuk ke rest area. Rendi mempercepat laju, masuk dari pintu yang berbeda, lalu berputar-putar di tempat parkir, sambil tetap mengamati buruannya. Pikirannya kalut karena marah. Ia murka melihat seorang pria tak berguna, dengan seenaknya menyakiti perasaan satu-satunya wanita yang ia cintai.

Ketika dilihatnya Haris berjalan keluar, menggandeng seorang wanita, tertawa-tawa, kemarahan Rendi akhirnya memuncak.
Ia pindahkan gigi, dan menekan pedal gas lebih dalam.

-----
(Cerpen ini dimuat di Majalah Sekar edisi 106/13 tgl 3-17 April 2013, setelah melalui proses editing)

1 comment: